Hobiku bangkit dari kubur…

Sedjak dahulu kala saya memang menggemari “hobi” yang satu ini, atau tepatnya sedjak SMP saya sudah menggemari seni photoghrapy. Pertama kali saya memegang kamera adalah poket kodak tipenya saya lupa tapi yang pasti kamera itu kini menjadi bangkai, yach namanya juga sudah udzur :D. Dulu…., untuk memegang kamera saya harus menabung sebulan hanya sekedar membeli film satu roll yang harganya waktu itu untuk asa 200 sekitar Rp. 25.000,-. Susah sekali rasanya untuk bisa memencet shutter karena saya harus berpuasa jajan selama kurang lebih sebulan utnuk membeli film :D, atau jalan pintas ya menggelapkan uang SPP :oops:.Kesenangan saya dengan kamera dan photoghrapy harus kandas dan kalah oleh hobi yang telah mendarah daging sebelumnya, saya menggemari elektronika sedjak SD dan kamera baru menginjak SMP. Prestasi saya di dunia eletronika cukup bagus waktu itu, ada beberapa radio AM (SW-MW) yang rusak setelah saya bongkar :D, dan alhasil alm. Kakek marah-marah hehehe, tapi ya yang namanya hobi sekalipun dimarahi ya besok diulangi lagi alasannya adalah saya ingin tahu bagaimana lilitas kabel itu bisa menghasilkan bunyi-bunyian (gending-gending). Ok, kembali lagi ke kamera…, pertengahan tahun di SMK N Negeri Blitar atau tepatnya kelas 2 SMK hobi berkamera mulai bangkit lagi karena kebetulan saya mengikuti ekstrkurikuler jurnalistik, waktu itu saya diberikan materi photoghrapy oleh Mas Imam Muslim beserta para senior (jaman itu saya masih junior, -Red), kamera yang digunakan adalah Konica Minolta yang terkenal cukup ribet dibandingkan dengan kamera instant jaman sekarang :D. Saya juga pernah diberi materi oleh Senior lainnya yang kebetulan memang sedang berada di dunia jurnalistik (sebagai wartawan) yaitu Mas Santon, tapi saya tidak memperhatikan merk dan tipe kameranya, yang saya tahu hanya masih menggunakan analog dan film :D.

Hobi perkameraan sedikit tersalurkan dengan keanggotaanku di Jurnalistik SMK N 1 Blitar, karena organisasi ini mengelola majalah sekolah dan sering mengadakan liputan untuk setiap bulannya (konon sekarang dipegang anak broadcast untuk magazine-nya, sad :(). Ya.., cukup seringlah hunting narasumber, photo (model, panorama, etc). Kemudian setelah lulus dari SMEKENSA, saya sempat menjadi pengganguran maupun pers lokal, akhirnya di Surabaya saya menemukan sesuatu yang sangat menarik dan menenggelamkan hobi photoghrapy saya ((baca halaman profil). Yach apa boleh buat ada tuntutan lain yang harus dipenuhi, dan saya harus fokus untuk itu dulu….

Setelah melanglang buana dari Indonesia bagian Jawa Timur hingga Indonesia bagian Kalimantan Timur akhirnya saya terdampar di Jakarta raya, metropolitan yang penuh sesak, penuh asap, penuh prahara tapi juga menjanjikan segudang kesuksesan serta kesengsaraan. 1 tahun sudah saya berada di kota penat ini, bekerja, kuliah adalah keseharian saya, kehidupan yang kini kian membaik dengan kondisi ekonomi yang cukup stabil meski kadang harus menjadi tukang parkir untuk menutup pasak :D. Berawal dari kondisi inilah saya berpikir untuk kembali membangkitkan ketertarikan saya tentang photoghrapy, kali ini saya tidak hanya gemar jeprat jepret tapi saya memang lebih serius “ingin” belajar photoghrapy meski hanya untuk sekedar hobi saja.

Berpikir sekian lama sekian bulan (Sekitar 6 bulan lalu) saya memutuskan untuk membeli kamera DSLR entry level, tapi saya bingung kamera mana yang cocok untuk saya, padahal saya juga belum punya uang sama sekali untuk anggaran “hobi” ini :D. Ya sudah…, karena memang tidak ada uang, jadinya saya hanya bisa melihat review-review kamera DSLR entry level, biasanya saya melihat review perbandingan spesifikasi DSLR di dpreview.com dan perbandingan hasil di imaging-resource.com dan alhasil saya mengantongi beberapa kandidat untuk entry level seperti saya yakni Canon 1000D, Sony alpha 330, Nikon D3000.

Keputusan saya untuk melancarkan hobi ini bermula ketika saya melihat-lihat gambar yang diambil dengan lensa macro, gambarnya begitu hidup dan bisa menghipnotis saya meski saya tidak sampai mentransfer uang ke orang yang tidak jelas :P. Kenapa saya harus membeli kamera SLR sementara saya sudah punya kamera poket Casio Exilim? Tentu saja tidak relevan bila membandingkan DSLR dan Pocket Camera, namun alasannya adalah karena saya butuh kamera DSLR. Sebagai seorang IT yang sehari-hari bergelut dengan komputer dan sedikit autis maka saya harus mencari hiburan lain yang lebih bermanfaat daripada sekedar nongkrong, hang out, clubing, ke mall, nonton. Kebetulan memang saya kurang suka berkumpul dengan teman-teman atau siapapun yang tidak kurang jelas topik bahasannya. Meski kadang perlu bergumul hanya untuk sekedar menyambung silaturahim dan tidak pernah menjadi kebiasaan dalam hidup saya :D.

Selain itu saya pikir, DSLR juga dapat mendukung pola hidup saya yang sendiri, dan menggemari suasana sunyi, sebagai manusia biasa tentunya saya juga perlu hiburan dan gambar-gambar bernyawalah yang mampu membuat saya tersenyum dikala jenuh dengan penatnya hidup. Satu, dua alasan ini bila dirangkum akan menjadi alasan singkat dalam mengambil keputusan membeli kamera DSLR yaitu “karena saya butuh”, saya tidak ingin mengubah pola hidup saya yang gemar sendiri, dan dengan kamera saya tetap bisa meramaikan hidup saya yang sepi :D.

Thats all…

2 thoughts on “Hobiku bangkit dari kubur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*