Persepsi diantara dua…

Hahahaha, sebelumnya saya ingin tertawa mendengar selebitan kabar burung, burungnya bukan merpati, valid sekali :D. Hari ini tanggal 15 Januari 2010 saya mendapat sesuatu (cerita, info, warning?) yang membuat saya bisa tertawa dalam kesedihan (couldn’t finished OpenEMR) tapi nggak papalah, tertawa diatas penderitaan sendiri hehehe. Sebelum melanjutkan membaca, saya peringatkan bahwa ini adalah tulisan yang cukup serius namun saya mencoba untuk membawakannya dengan santai dan jangan sampai menimbulkan persepsi apapun kemudian….Saya bingung sebenarnya mau mulai darimana, okelah kalau begitu…, diawali dari persepsi saya tentang “suka”, menurut saya siapapun berhak mengutarakan kata “suka” ke semua orang yang memang berkenan dihati. “Suka, Sayang” menurut saya adalah ungkapan yang wajar dan seharusnya juga dianggap wajar dalam sebuah pertemanan, persaudaraan, atau keluarga, namun pada kenyataannya ada beberapa individu yang mempunyai persepsi berbeda tentang ungkapan “Suka, Sayang”. Hmmm…. kenapa bisa berbeda?

Ada beberapa faktor yang sepertinya cukup mempengaruhi persepsi tersebut diantaranya adalah situasi, situasi dimana mengutarakan suka atau sayang cukup berpengaruh. Misalnya ketika si A menyatakan suka atau sayang ke si di tempat yang romantis, tentu hasilnya akan berbeda bila si A menyatakannya di tempat yang ramai. Faktor lainnya adalah hubungan yang telah terjalain antar dua pihak, misalnya si A adalah sepupu, atau saudara si B maka tentu saja ungkapan suka dan sayang hanya akan ditanggapi sebatas itu saja oleh si B (tau kan masukdnya!), hal ini berbeda ketika hubungan keduannya adalah soulmate atau teman baik bisa jadi ungkapan sayang atau suka itu punya tujuan tertentu selain persahabatan.

Perbedaan persepsi ini kemudian menimbulkan masalah ketika terjadi suatu masalah atau perilaku lebay yang akhirnya memunculkan situasi yang tidak mengenakan sementara apa yang diterima orang lain adalah persepsi kontrak akan sesuatu hal yang sebenarnya tidak perlu. Kontradiksi ini akhirnya melahirkan situasi dimana orang yang persepsinya berbeda merasa tersudut, tidak nyaman, terhimpit oleh sesuatu yang “tidak benar” menurutnya. Kalau saya bilang “begini salah, begitupun salah” tentunya sudah tak asing lagi ditelinga kita adanya ungkapan “diam berarti setuju”, lalu apakah harus bicara, mengkalrifikasi ke semua orang? Sayangnya orang seringkali melihaat sebelah mata dan berpikir sebaliknya bahwa “klarifikasi hanyalah pengelakan”. Lalu harus bagaimana?

Ya nggak harus gimana-gimana, emang mau ngapain, lha wong serba salah, ya to?  Saya sendiri mencoba menempatkan diri pada situasi dan kondisi “kontra” atau orang yang terjepit oleh keadaan yang tidak seperti apa yang saya pikirkan. Pertama yang saya lakukan adalah menahan untuk marah, mencoba tetap tenang dan mengolah informasi yang ada dan kira-kira dimana salahnya. Bagi saya, klarifikasi hanya akan menghadirkan “drama” baru dan belum lagi munculnya opini-opini kontra lainnya. Tentu saja ada upaya klarifikasi, namun upaya ini tidak terlihat atau invisible mode agar tidak membuat situasi semakin runyam. Setelah mendapat informasi dari seseorang tentunya hal pertama yang saya lakukan adalah menelusuri kira-kira siapa “si ember tumpah”. Setelah itu klarifikasi hanya dilakukan ke orang yang sekiranya bisa dipercaya dan saya anggap penting, secara otomatis akan menceritakan hal yang sebenarnya sesuai dengan persepsi saya ke koleganya.

Lalu apakah cukup dengan kalrifikasi ke teman saja, tanpa harus memikirkan omongan-omongan yang menyesakan? Tidak juga, yang saya lakukan adalah kembali menimbang dan berpikir secara matematik dan logis mengenai siapakah yang menjadi sumber masalah, bila orang itu cukup penting dan sebelumnya tidak ada masalah dengan saya maka saya harus klarifikasi sendiri, karena dianggap penting ya sudah sepantasnya mengklarifikasi ke orang tersebut karena memang dirasa penting. Kalau sumber itu adalah orang yang kurang penting atau bila didalam suatu organisasi penyebar isu adalah orang yang levelnya dibawah saya, dan memang sudah terkenal sebagai penggosip maka saya tidak perlu mengklarifikasi bahkan cenderung merendahkan orang tersebut. Ketika sebelumnya saya menaruh hormat ke yang bersangkutan maka setelah masalah ini mungkin agak berubah, dan ada suatu gambaran kepatutan pada diri ybs. “Pantas saja levelnya segitu-gitu saja, sikap dan pikirannya saja seperti itu” biasanya anggapan-anggapan seperti ini mulai muncul pasca insiden :D.

Saya tidak perlu memikirkan apa yang saya dengar, omongan baik dan omongan buruk sudah seperti aritmatik bagi saya, ketika omongan-omongan tersebut layaknya angka-angka penting yang punya pengaruh signifikan bagis realitas maka tentu saja akan menjadi masalah yang harus diselesaikan. Tapi jika dalam kasus seperti ini maka omongan-omongan seperti itu tidak perlu ditanggapi karena bukan sesuatu yang akan mempengaruhi perhitungan saya, paling-paling anggapan lebih rendah muncul dengan sendirinya dikepala saya karena orang tidak seharusnya berbicara seperti itu. Sulit memang mengerti orang lain, bahkan saya cenderung tidak mengerti terhadap orang-orang yang ada disekitar saya, apa yang mereka tertawakan, apa yang mereka bicarakan adalah orang lain yang sebenar-benarnya mempunyai hak mutlak yang saling berbatas-batasan satu dengan yang lainnya.

Bagi para penggosip, mungkin membicarakan orang lain adalah sesuatu yang menyenangkan, seperti saya ketika sedang duduk di depan komputer canggih dengan koneksi insternet super cepat maka sayapun betah untuk tidak beranjak selama seharian. Atau sama halnya ketika saya sedang di ruangan atau alam yang cukup tenang (sunyi), tidak ada suara-suara berisik manusia tertawa, menangis, kucing berantem, tikus mengerat dinding, maka selama ada laptop core 2 duo dan internet secukupnya saya bisa hidup tanpa siapapun. Terkadang saya juga mendegar gosip, tapi saya tidak pernah seperti mereka yang kemudian menjadikannya topic, hot news or whatever lah…. Bagi saya informasi (gosip) seperti itu tidak layak untuk dibahas karena akan melanggar privasi orang lain. Lalu kenapa saya mendengar gosip? Terkadang saya ingin tahu apa yang sedang menjadi trend, apa yang sedang hangat diperbincangkan, namun ketika sudah menyakut orang lain yang kemudia saya mempunyai persepsi berbeda tentang objek yang dibahas maka obrolan itu saya anggap “kentut”.

Kesimpulannya adalah, saya menganggap perlu bila itu penting dan berpengaruh, kalau enggak ya ngapain dipusingin? Masih ada yang lebih penting untuk dipikirkan, masih banyak yang lebih berarti untuk dilakukan. Nggak penting mah nggak usah dipusingin, akur Dab?

2 thoughts on “Persepsi diantara dua…

  1. ngomong opo toh cak… gek gek ki goro2 aku ngomong elek zennos pas koe tekok openemr wingi ??
    ngapurani yo nek salah… :)

    wes tak aadd link e… gantian… :mrgreen:

  2. Ora Dab, dudu iku hehehe
    Mosok masalah zennos wae tak pikirne, wong aku dewe ora ngangge :D

    Iki ora enek hubungane karo sistem utowo gawean heheheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*