pilihan

Adalah sebuah pilihan

Nyaman atau aman adalah sebuah pilihan ketika membangun sebuah sistem, namun layaknya manusia yang diinginkan adalah “nyaman dan nyaman” ya itu memang sifat manusia pada umumnya yang tidak jarang mengabaikan konsekuensi dari suatu hal cenderung ingin selalu mengikuti keinginan.
Begitu pula saya, saya juga masih menginginkan banyak hal yang kadang membuat pilihan adalah sesuatu yang harus direnungkan (bukan disesali). Saya terlahir di keluarga kecil sederhana yang waktu itu belum ada listrik, kemudian TV hitam putih baru ada di rumah saya sekitar tahun 90 an, yah… itu bukan pilihan tapi itu ketetapan.

Banyak hal yang saya inginkan selalu tidak terpenuhi, ketika saya ingin mobil2an, saya tidak pernah punya mobil2an, ketika saya ingin punya sepatu baru, saya selalu menggunakan sepatu yg dijahit hingga kadang saya harus merobek sepatu itu hingga mendapat sepatu baru :D.

Tumbuh semakin tua, semakin berkurang usia dan semakin banyak keinginan, mulai dari ingin mainan bagus2, hingga ingin uang saku naik :D, tapi apa daya memang itu tidak saya dapatkan. Segala keterbatasan itu membuat saya harus memilih apakah terus meminta meski tidak diberi ataukah berusaha sendiri meski belum tentu bisa memiliki?

Yap, keadaanlah yang membentuk saya seperti ini, terbiasa dengan usaha, terbiasa dengan berbagai kondisi, belajar banyak dari lingkungan tentang tata krama, adab dan sebagainya. Saya mulai mengenal pilihan pada saat lulus SD, waktu itu saya sudah memustuskan untuk membuat ketetapan tentang “cita-cita”, dan saya memilih untuk menjadi tukang service perangkat elektronik.

Menyadari untuk menggapai cita-cita tersebut tidaklah mudah, dan agar menjadi “tukang service” yang handal saya harus mendapatkan sekolah yang bagus. Yang benar saja, seharusnya saya memikirkan masuk ke SMP mana, negeri atau swasta, tapi yang ada dibenak saya adalah SMK favorit di Blitar dan alhamdulillah saya diterima di SMK Negeri 1 Blitar jurusan elektronika komunikasi.

Saat itu saya masih mengingkan untuk menjadi tukang service namun ini sebutannya lebih keren yaitu: “electrical engineer” :D. Akhirnya saya masuk juga di jurusan elektronika komunikasi, dan sempat terpikir kalau tidak lulus tes maka saya harus kemana :D.  Oke…, masih ingin menjadi tukang service, masih teringat di benak saya ketika ada test tulis untuk sebuah pekerjaan teknisi di time zone (kediri) saya sangat optimis pasti bisa lolos.

Eh…, asem tenan…, saya gagal…, seketika itu langsung marah-marah tak karuan dijalanan, kebut-kebutan entah berapa orang yang hampir tertabrak (darah muda :D). Saya masih ingin menjadi tukang service, namun rupanya Tuhan berkehendak lain. Selang 3 bulan setelah lulus SMK saya s, saya memutuskan untuk ikut teman ke surabaya mengikuti training komputer/basic networking.

Hari demi hari dilalui, gaji pertama 250rb sbg operator warnet, dan langkah ini adalah salah satu moment dimana keinginan menjadi tukang service TV berubah menjadi tukang service komputer :D.  Meski gaji tak seberapa tapi saya menemukan ada yang asyik didalamnya, saya menemukan hal-hal yang sama asyiknya dengan sewaktu saya membuat sebuat piranti elektronika.

Berawal dari sebuah perusahaan kecil, saya mendapat apa yang saat ini mampu membuat saya berdiri diatas kaki sendiri. Saya tidak pernah terbayang akan bekerja dengan benda-benda yang menurut saya antik (dulu – komputer), meski saya dulu pernah marah-marah karena tidak lulus ujian masuk time zone, meski saya tidak jadi kuliah di ITS (kampus idaman sedjak SMK).

Hal-hal yang tidak saya dapatkan pada masa-masa itu adalah:

Sepeda motor untuk sekolah, dan sebagai gantinya saya mendapat banyak teman karena menjadi kenek sewaktu berangkat dan sepulang sekolah, kenek bus AKDP (mandala – Zena 79-44), Avelia sama Mbak Riska pasti masih inget :P.

Pengen dianter jemput waktu sekolah karena jarak dari rumah ke halte adalah 3km, karena jarak yg lumayan saya berangkat sekolah jam 5 pagi supaya mendapat bus mandala – Zena :D, dan ketika pulang sayapun harus jalan kaki, makanya meski kurus Alhamdulillah sehat dan kuat menahan lapar :D.

Yang paling miris, dan membuat saya ngedrop adalah ketika lulus dari smk namun tak dapat melanjutkan kuliah ke ITS. Hampir setiap hari saya marah-marah nggak jelas, murung dan hanya sepak bola yang membuat saya terhibur antara jam 3-5.

Oke…., saat ini saya juga sedang menginginkan sesuatu yang tentunya hal ini juga diinginkan oleh orang lain seusia saya, sempat emosional dengan menggunakan kata harus harus harus, namun apa daya….

Banyak hal yang telah saya alami, harusnya membuat saya belajar dan menyadari betapa Tuhan adalah memberikan yang terbaik tanpa isyarat. Saya juga berusaha, tapi tidak dengan gerilya, saya hanya fokus pada satu bintang hingga bintang itu menghilang…, hanya bisa berharap mendapat kesempatan meski saya menyadari betapa Tuhan telah merencanakan yang terbaik.

Meski saya sudah menggunakan banyak faktor untuk berhitung, mengambil segala kemungkinan apakah ada yang berakibat fatal ataukah menjadikan sesuatu menjadi berantakan dan sepertinya pelajaran hidup selama ini akan bermanfaat untuk menghadapi masalah-masalah yang akan terjadi tapi saya belum juga mendapat lampu hijau (merah terus, -red).

Apapun rencana-Nya dan rencanamu (yg dibumi) semoga menjadi jawaban dari do’a-do’aku, meski saya cuma 13 sedangkan 17 sehingga kemungkinan kalah…, itu adalah sebuah pilihan :)

*nasi yang sudah menjadi bubur selalu bisa dijadikan bubur ayam spesial.

*tidak ada yang patut disesali ketika telah memilih karena itu adalah pilihan untuk tidak menyesal sehingga menjadi manusia yang bahagia.

*kesenangan itu selalu terlihat sedangkan kebahagiaan itu tidak selalu dapat dilihat namun selalu dapat dirasakan.

*manusia ibarat kamar-kamar kosong, sekalipun bola bumi dimasukan ke kamar-kamar kosong, masih ada saja kamar yang kosong. Selalu sisakan bola bumi meskipun kecil agar dapat selalu mengisi kamar yang kosong.

*jujur, luhur, atur, sluman slumun slamet, selamat dunia selamat akhirat.

adalah sebuah pilihan*

2 thoughts on “Adalah sebuah pilihan

  1. ahay, curhat euy!  sama bung nasipnya hanya saja ane ga bisa nulis sebagus Nte :D,  banyak bermimpi dan fokus dengan tujuan adalah intinya, maka kita akan jumpai sebuah kepastian Allah akan memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita pinta, ho oh ra?

  2. Betul-betul…
    Sekalipun diawal menggerutu kenapa ini begini, kenapa begitu tapi pada akhirnya minta sesuap nasi dikasih sekarung beras :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*