social-life

Jakarta vs Social Life

Beberapa hari yang lalu saya sempat ngobrol dengan seseorang yang juga IT salah satu perusahaan multinational di Jakarta, kebetulan sama-sama terjun di bidang yang sama kemudian nggak sengaja ngelantur soal kehidupan sosial bagi pekerja seperti saya dan dia. Sembari menunggu recovery harddisk salah satu server dan menunggu proses online instalasi beberapa software selesai munculah “Jakarta vs Social Life”

Sebagai profesional IT yang masih single tentu saja lebih banyak menghabiskan waktu bersama super komputernya daripada kehidupannya diluar lingkup kerja bahkan bisa dibilang 50% dari waktu yang dimiliki dihabiskan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan. Rupanya teman saya mengeluhkan kondisi ini karena dengan pekerjaan seperti ini social life nya sangat terganggu, bagaimana tidak, berangkat kerja pagi-pagi sekali agar tidak terlambat ngantor, pulang tidak bisa teng go (jam 5 pulang) selalu saja ada pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga selalu terpaksa pulang malam. Sesampainya dirumah, badan sudah payah dan tenaganya tinggal tenaga sisa untuk mandi kemudian tidur.

Weekend di Jakarta tidak ada asyiknya, hiburan hanya itu-itu saja, mall, pub, monas, ragunan, tmii, ancol dan tidak ada tempat yang benar-benar asri/alami yang cocok untuk menyegarkan otak setelah penat selama weekday, apalagi macet Jakarta sudah tidak pandang weekday maupun weekend. Banyak sekali keluhan-keluhan yang disampaikannya sehingga saya jadi berpikir apakah benar seperti itu? Where is my social life?

Saya ikut-ikutan memikirkan apa yang disampaikan teman, dan kondisi Jakarta memang seperti itu. Kondisi seperti ini berlaku bagi pekerja yang berada pada level midle low (assistan manager – staff) sedangkan pada level midle – top (assistant manager – manager – director) tidak kehilangan social life mereka karena mempunyai komunitas tersendiri. Lalu kenapa pekerja yang berada pada level midle – low tidak membangun komunitas mereka?

Pekerja pada level midle-low tidak mempunyai banyak waktu untuk berkumpul, bersosial atau dengan kata lain mereka adalah kumpulan korban kapitalisme kehidupan dimana mereka tidak merdeka dengan kehidupannya sendiri. Hm…, seperti itukah? Secara umu saya setuju dengan opini tersebut karena kenyataannya memang seperti itu, namun secara pribadi saya tidak mempermasalahkan social life seperti teman saya.

Social life di Jakarta menjadi sesuatu yang mahal bagi sebagian orang demi tuntutan hidup yang harus dipenuhi agar bisa survive di ibukota, mungkin hal ini tidak berlaku bagi mereka yang sekedar hidup atau puas dengan bisa makan setiap hari, atau yang begitulah (sekedar hidup). Bagi para pemimpi, harus merelakan social life mereka untuk dibarter dengan kapitalisme kehidupan yang keras dan penat, apakah masih mau hidup di Jakarta?

Bagi orang yang merindukan social life sesungguhnya maka pekerjaan yang cocok adalah internal IT dari perusahaan non public services atau perusahaan non IT, karena mayoritas pekerja di perusahaan-perusahaan tersebut mempunyai kejelasan jam kerja lebih baik dari perusahaan public services maupun perusahaan IT.

Social life menurut saya adalah dimana seseorang mampu menemukan lingkungannya untuk hidup tenang, senang dan terkadang tidak berhubungan dengan manusia lainnya. Saat ini saya masih mematok segala sesuatunya terhadap diri sendiri karena memang belum ada “buntut” yang ngikut dibelakang saya a.k.a single sehingga apapun yang saya lakukan orang tidak akan berpengaruh kedalam bagian kehidupan saya lainnya. So, where is my social life?

Social life bagi saya adalah terminal, bash, shell, kernel panic and some books :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*