Bukan sekedar sopir taksi…

Kemarin, 19 November 2011 Saya menghadiri acara Zimbra Community Meeting di Bekasi dan alhamdulillah acara tersebut berjalan dengan lancar. sepulang dari acara tersebut (3:30pm) saya bermaksud pulang kerumah di Mampang, sekitar 20 menit menunggu angkutan akhirnya taksi biru kosong mau behenti dan mengantar saya ke tujuan. Seperti biasanya (kebiasaan), saya membuka obrolan dengan pak sopir dan  menanyakan hal-hal basi seperti: sudah berapa lama membawa taksi, sudah berapa lama di Jakarta, dan lain-lain. Hm…., ternyata bapak ini cukup nyambung diajak ngobrol :d

Ngobrol ngalor-ngidul akhirnya diketahui Bapak ini bernama M. Nurkholis berasa dari Nganjuk Jawa Timur sudah berkeluarga dan mempunyai istri dan anak yang tinggal di Kediri – Jatim. Sebelum menjadi sopir taksi, Pak Kholis bekerja sebagai marketing di salah perusahaan penerbitan di Jakarta dengan penghasilan yang cukup besar, menurutnya sewaktu bekerja sebagai marketing uang cukup berlimpah dan tidak sulit untuk mencari uang. Selama bekerja Bapak seorang anak ini prestasinya cukup bagus dan bisa dibilang berhasil, namun pada akhirnya Pak Kholis lebih memilih menjadi sopir taksi dengan pemasukan yang pas-pasan, apa alasannya?

sambungan after 3 months passed…

Alasannya adalah, ketika menjadi marketing Bapak dua anak itu sering mendapatkan uang dengan cara-cara yang tidak baik dan tak jarang melakukan praktek mark-up, suap menyuap demi sebuah project. Tak ayal, uang yang didapat sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hari demi hari Bapak dua anak ini menyadari betapa singkat kehidupan di dunia ini, uang bukan semata-semata yang menghadirkan kebahagiaan, uang bukanlah satu-satunya parameter sukses bagi seseorang. “Ketentraman bathin lebih penting daripada uang, karena dari situlah sumber kebahagiaan” ujar Bapak itu.

Bapak itu juga mengutarakan jika sudah berkeluarga, maka apa yang dimakan oleh anak dan istri akan menjadi darah, jika rejeki yang  kita berikan ke mereka adalah rejeki yang tidak halal maka tentu saja akan berpengaruh ke perilaku, “Saya merasakan, ketika anak saya masih makan dengan rejeki yang tidak halal anak saya susah diatur, kehidupan rumah tangga kurang harmonis dan rejekinya tidak barokah” jelasnya.

Subhan’Allah, saya cukup kagum dengan Bapak ini yang mampu keluar dari zona nyaman hanya untuk mencari ridho dari Allah SWT. Nah, setelah saya bertanya panjang dan lebar, akhirnya giliran saya yang ditanya umur berapa, bekerja dimana, apakah sudah siap menikah dan wejangan penutup dari beliau karena sudah sampai di tujuan adalah:

“Jika sudah cukup, segeralah menikah, Allah akan memberikan yang baik kepada yang baik, tugas kita hanyalah berusaha menjadi lebih baik agar Allah senantiasa memberikan kebaikan kepada diri kita melalui ridho-Nya”

Sambil mengucapkan terimakasih, saya berlalu dan berharap semoga kebaikan-kebaikan tersebut selalu menyertai hidup saya, tak kelupaan semoga bertemu dengan yang “baik” sesuai dengan harapan saya dan orang tua saya (tidak ada orang tua yang tidak mengharapkan yang terbaik bagi anaknya).

Semoga menjadi inspirasi kita semua dalam menjalankan keseharian kita sehingga menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Cheers,

About David

Just nobody :-)
This entry was posted in Corner and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Bukan sekedar sopir taksi…

  1. ZiE says:

    opo alesane oi? gawe artikel nggantung :( sudah 2 bulan lhoo :b

  2. David says:

    Wes disambung yo…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>