Singkong Original

Saya orang kampung yang suka singkong dan tinggal di Jakarta

Singkong OriginalJakarta adalah barometer segala hal yang ada di Indonesia, segala macam makanan luar negeri dan hiburan ada di Jakarta. Banyak yang bilang Jakarta tempat paling oke untuk mengadu nasib, tapi kalau tidak punya keahlian jangan coba-coba mengadu nasib disini karena Jakarta akan benar-benar lebih kejam dari ibu tiri jika nekad datang tanpa skill.Mungkin saya adalah salah satu orang kampung yang beruntung mendapat kesempatan untuk tinggal, belajar sembari bekerja di Jakarta. Saya hijrah ke Jakarta sekitar 4 tahun lalu atau tepatnya Agustus 2008, masih tertanam jelas dibenak saya ketika itu mendapat tawaran pekerjaan di perusahaan oil & gas yang berada di Jakarta Selatan dan berhubung keinginan besar untuk bisa kuliah membuat saya menyudahi kontrak kerja di Bontang – Kaltim dan memilih ke ibu kota supaya bisa melanjutkan pendidikan.

Selama empat tahun di Jakarta, saya menemukan banyak hal mulai dari yang lucu menggelikan hingga yang mengerikan. Dari makanan nusantara hingga ujung dunia ada di Jakarta. Kadang terbesit di benak saya agar bisa menjadi seperti mereka yang bisa menikmati semua hal yang ada di Jakarta, namun saya bersyukur masih bisa menegaskan ke diri sendiri bahwa lidah saya lidah singkong dan akan tetap menyukai singkong sampai kapanpun meski hidup di metropolitan.

Ini bukan sekedar soal singkong, tapi lebih dalam soal prinsip menjaga cita rasa agar tetap original. Singkong mengajarkan saya untuk tetap setia pada nilai-nilai luhur kesopanan dan norma-norma yang berlaku ditempat saya menanam singkong ,eh maksudnya kampung halaman. Di lingkungan saya tinggal sekarang, tidak semuanya suka singkong, ada yang suka keju, ada yang suka jaipong ada yang suka disko (eh jadi mirip lagu :d) sehingga harus pandai-pandai mebawa diri agar citarasa singkong tidak berubah.

Menurut beberapa orang, singkong itu makanan udik nan kampung tapi faktanya singkong banyak mengandung protein, serat, vitamin, dan banyak negara di dunia ini yang makanan pokoknya adalah singkong. Ada juga yang bilang, salah satu penyebab kulit saya coklat kehitaman adalah karena sewaktu ibu saya hamil, beliau ngidam nasi tiwul (nasi terbuat dari gaplek) + ikan asin bakar.

Sampai kapanpun saya akan tetap menyukai singkong karena singkong membuat saya bisa membawa diri ketika bergaul dengan orang-orang yang level intelektualitas maupun kelasnya diatas saya dan tentunya banyak manfaat dari pergaulan tersebut. Hal yang paling saya takutkan adalah lupa ” Mulutmu harimaumu” dan menurut saya ketika harimau itu bisa dijadikan peliharaan dan dijaga dengan baik maka bisa jadi penakluk terhadap orang-orang disekitar kita, tapi ketika kita tidak bisa menjaganya maka harimau itu akan menerkam balik mencabik-cabik tanpa ampun hingga darahpun tak bisa menetes dari badan (lebai dikit josss..).

Seringkali kali mendengar atasan saya mengucap ” 1 kata negatif perlu ratusan kata positif untuk memperbaikinya” (kurang lebih seperti itu) dan menurut saya ini mutlak kebenarannya karena sama saja dengan membuat luka cukup dengan satu sayatan tapi untuk menyembuhkannya perlu lebih dari sekedar jahitan. Saya selalu berusaha menjaga agar tidak kelepasan dan lebih baik diam daripada keceplosan, lupa alias khilaf adalah hal yang sangat wajar dan yang saya takutkan adalah ketika lupa dimana dan dengan siapa saya berbicara.

Akhirnya, singkonglah yang akan menjaga citarasa ini tetap original, kampung tapi tidak udik, kampung tapi tidak primitif, ini adalah tentang lingkungan dan belajar darisana untuk membawa kebaikan kedalam korporasi.

Aku tetap lala padamu singkong!

*lala padamu dipopulerkan oleh Sudjiwo Tedjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*