Antara toleransi atau hakiki

Tanggal 8 Juni 2014 atau tepat sehari sebelum pemilu kebetulan teman saya dari Surabaya sedang berada di Jakarta dan akhirnya saya culik ke kawasan Thamrin (Sarinah).  Obrolan pertama standar soal kabar dan kesibukan sembari guyonan khas cak cuk suroboyoan :d.

Tak lama obrolan kami mengarah pada sesuatu yang agak serius tentang toleransi, kebetulan beberapa waktu sebelumnya saya membaca timeline salah satu teman yang intinya mengeluhkan banyaknya orang yang makan didepan umum meski sedang bulan ramadhan, inikah yang disebut toleransi? Itulah akhir cuit nya disosial media.

Menurut saya, makan atau minum ditempat umum saat bulan puasa kuranglah etis karena banyak orang yang sedang menjalankan ibadah puasa dan tidak sesuai dengan asas tenggang rasa antar umat beragama . Namun ketika hal seperti saya bawa ke meja diskusi, betapa berbeda pendapat teman saya ini “picik sekali orang yang beribadah dan ingin dihormati” ujarnya.  Hm…, saya agak sedikit kaget mendengar ucapan itu saya tidak ingin dianggap ingin dihormati, mungkin saya cenderung ingin agar toleransi antar umat beragama terjaga dan semua umat bisa melaksanakan ibadahnya masing-masing.

Sejenak saya memikirkan ucapan tersebut dan yang saya pahami adalah ketika saya berpikir bahwa orang lain harus menghormati orang lainnya yang sedang beribadah adalah sesuatu yang baik tapi bukan berarti orang lain harus menghormati saya yang sedang berpuasa atau saya tidak lagi menghormati orang lain yang sedang beribadah.

Pada opini diatas, nampaknya saya melupakan hal yang paling hakiki dari ibadah yaitu hubungan vertikal antara saya (khususnya) dan Allah SWT atau pertanggung jawaban saya terhadap Allah SWT bukan kepada yang sedang makan, minum, merokok didepan saya atau ke orang lain.  Hanya Allah SWT yang berhak menilai dan melihat hamba-Nya bertaqwa dan intinya kita tidak perlu peduli terhadap hal-hal yang bisa mengganggu ibadah termasuk hati yang tidak ikhlas.

Akhirnya saya sadar bahwa ketika melakukan ibadah ya ibadah saja, tidak perlu attention dari orang lain dan hanya mengharap ridho Allah SWT agar hidup lebih tenang, damai dan bermanfaat.

One thought on “Antara toleransi atau hakiki

  1. tak sengaja baca 2x artikel anda. e nemu tulisan soal “orip”.
    suer, aku SUKA ama statemen anda. bahasa alus dr “setuju”.

    super, it’s ok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*