Sebatas keinginan

Hasrat, keinginan dan nafsu menjadi bahan bakar manusia untuk menjalani hidup yang adanya di hati.
Akal pikiran adalah roda penggerak pencari cara yang baik dan buruk untuk memenuhi hasrat yang adanya di otak.
Sedangkan jasad hanyalah jasad yang digerakkan oleh hasrat, pikiran, dan hati.
Manusia hidup yang tidak memiliki keinginan adalah jasad yang bernafas.

Ini tulisan ngawur pertamaku di bulan Rajab ini, ngawur karena tadinya aku ingin beres-beres rumah lalu pergi ke sebuah mall di bekasi dan berharap bisa menyelesaikan beberapa task disana. Tapi semua itu sebatas keinginan atau paling tidak hingga sekarang ketika aku menulis artikel ini.

Aku punya banyak keinginan, mulai dari yang kecil-kecil sampai keinginan yang fantastis dengan kemungkinan sangat kecil untuk diwujudkan. Hari ini saja aku gagal makan siang karena enggan beranjak dari rumah, aku juga gagal setrika karena cucian masih basah. Dari dua hal sederhana ini saja aku bisa belajar dan mengerti bahwa apapun yang dijalani dalam hidup ini adalah pilihan, dan aku memilih untuk mengesampingkan makan siang. Lalu bagaimana dengan cucian yang masih basah?

Cucian yang sudah dicuci sehari lalu menurut perhitunganku seharusnya pagi ini sudah kering dan bisa disetrika, tapi apa boleh buat nyatanya masih belum benar-benar kering. Dari sini aku melihat bahwa keinginanku setrika gagal karena faktor x, boleh dibilang itu takdir?

Sebatas keinginan terkadang bukan hanya sebatas keinginan, tapi karena memang keadaan yang tidak memungkinkan. Untuk kasus yang pertama aku memilih untuk tidak melakukannya, sedangkan kasus yang kedua adalah faktor x yang membuatku tidak bisa melakukannya. Tugasku sebagai manusia adalah berusaha, apapun keinginanku baik atau buruk akan selalu ada otak untuk mencari cara mewujudkannya lalu semua itu tak lepas dari restu hati.

Lebih sulit membelokan hati daripada pikiran, dari dua kasus diatas pikiranku berkata “keluarlah, supaya bisa makan”, tentu saja itu sangat logis karena kalau tidak makan aku pasti lapar dan sakit perut. Tapi hati berkata lain, dan mendikte-ku untuk mengerjakan hal lain dalam keadaan lapar. Lalu kenapa sampai tega membiarkan perut lapar dan perih?

Pikiran cenderung lebih mudah diajak kompromi tapi hasrat adalah hal yang bisa sangat meresahkan ketika tak bisa diajak kompromi. Banyak keputusan keliru ketika semua berawal dari hasrat tanpa didasari dengan pertimbangan-pertimbangan independen dari otak tanpa invtervensi hati.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15:06, ini saatnya sholat ashar dan akupun belum makan sedari pagi, perutpun sudah berulang kali mengirim alarm (krucuk-krucuk). Kalau sudah seperti ini aku tidak boleh mengikuti kehendak hati yang maunya ngendon dirumah sedangkan ada cacing yang harus diberi makan. Dalam hidup ini akal seharusnya lebih dominan sedangkan hati dapat membuatnya lebih indah.

Bersambung ke part II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*