<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daily logs &#187; Corner</title>
	<atom:link href="http://blog.pnyet.web.id/tag/corner/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.pnyet.web.id</link>
	<description>A Nobody trying to become a Somebody</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Sep 2010 15:28:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Malas posting, malas ngeblog?</title>
		<link>http://blog.pnyet.web.id/2010/08/26/malas-posting-malas-ngeblog.html</link>
		<comments>http://blog.pnyet.web.id/2010/08/26/malas-posting-malas-ngeblog.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 12:26:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Pnyet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.pnyet.web.id/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama sekali blog ini tampak seperti rumah kontrakan yang lama tidak berpenghuni kumuh dan angker &#8220;banyak huka-hukanya&#8221;, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai itulah pribahasa yang tepat untuk mengutarakan nasib blog saya yang satu ini. Seringkali muncul angan untuk menulis gagasan yang muncnul begitu saja, tapi lagi-lagi hal itu tak terealisasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fblog.pnyet.web.id%2F2010%2F08%2F26%2Fmalas-posting-malas-ngeblog.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fblog.pnyet.web.id%2F2010%2F08%2F26%2Fmalas-posting-malas-ngeblog.html&amp;source=pnyet&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Blog,Corner,Pnyet" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://blog.pnyet.web.id/wp-content/uploads/2010/08/lazy.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-457" title="lazy" src="http://blog.pnyet.web.id/wp-content/uploads/2010/08/lazy-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Sudah lama sekali blog ini tampak seperti rumah kontrakan yang lama tidak berpenghuni kumuh dan angker &#8220;banyak huka-hukanya&#8221;, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai itulah pribahasa yang tepat untuk mengutarakan nasib blog saya yang satu ini. Seringkali muncul angan untuk menulis gagasan yang muncnul begitu saja, tapi lagi-lagi hal itu tak terealisasi :D. Sudah bukan hal baru lagi kalau saya sudah tidak bekerja lagi sebagai IT manager di PT. Lerindro Internasional semenjak Juli lalu, kantor itu pula yang menjadi jembatan saya untuk mencapai ini semua, special thanks to PTLI.</p>
<p>Kini saya bekerja di sebuah perusahaan IT dan mempunyai kesibukan baru yang agaknya membuat saya harus berjuang keras untuk mencapai level (ilmu) yang lebih tinggi, karena hal inilah waktu saya tersita bahkan untuk memikirkan perempuan sekalipun :D. Ketika ingin menorehkan tulisan di blog ini rasanya sudah sangat capek dan ingin cepat terlelap mengarungi alam bawah sadar.</p>
<p>Mudah-mudahan saya masih ingat akan blog ini sehingga semakin banyak artikel yang dapat ditulis, bukan untuk apa-apa tapi untuk dokumentasi pribadi. Saya sangat perlu dokumentasi seperti ini karena memang pelupa, kadang lupa mandi, lupa makan tapi tak lupa gosok gigi :P. Okelah kalau begitu, go blogging&#8230;.. saya sudah capek dan ingin melakukan hal lain&#8230;., ngedit blog :P</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.pnyet.web.id/2010/08/26/malas-posting-malas-ngeblog.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang akan kamu lakukan?</title>
		<link>http://blog.pnyet.web.id/2010/07/01/apa-yang-akan-kamu-lakukan.html</link>
		<comments>http://blog.pnyet.web.id/2010/07/01/apa-yang-akan-kamu-lakukan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 02:18:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corner]]></category>
		<category><![CDATA[My Life]]></category>
		<category><![CDATA[problematika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.pnyet.web.id/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Masih menyisakan kesal, malas, dan jenuh menghinggapiku hanya gara-gara kekecewaan terhadap personality seseorang yang sebelumnya terpadang hingga akhirnya ingin kutendang :D. Mak bedunduk&#8230;., muncul notifikasi online YM (Yahoo Messenger) salah seorang teman, maka saya tertarik membukap percakapan seputar apa yang saya rasakan saat ini. Pertanyaannya adalah &#8220;Andai kamu berada di perusahaan tidak enak, apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fblog.pnyet.web.id%2F2010%2F07%2F01%2Fapa-yang-akan-kamu-lakukan.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fblog.pnyet.web.id%2F2010%2F07%2F01%2Fapa-yang-akan-kamu-lakukan.html&amp;source=pnyet&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Corner,My+Life,problematika" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://blog.pnyet.web.id/wp-content/uploads/2010/07/ask.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-400" style="float: left;" title="ask" src="http://blog.pnyet.web.id/wp-content/uploads/2010/07/ask-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" /></a>Masih menyisakan kesal, malas, dan jenuh menghinggapiku hanya gara-gara kekecewaan terhadap personality seseorang yang sebelumnya terpadang hingga akhirnya ingin kutendang :D. Mak bedunduk&#8230;., muncul notifikasi online YM (Yahoo Messenger) salah seorang teman, maka saya tertarik membukap percakapan seputar apa yang saya rasakan saat ini.<span id="more-344"></span></p>
<p>Pertanyaannya adalah &#8220;Andai kamu berada di perusahaan tidak enak, apa yang akan kamu lakukan?&#8221;, pertanyaan ini telah diralat dari pertanyaan saya yang mengisyaratkan dilema seorang pekerja yang ingin melakukan gebrakan IT namun kurang mendapat dukungan dari SDM yang ada, sehingga menimbulkan kebosanan, kejenuhan dan keinginan untuk pergi atau tetap bertahan tapi menjadi pemalas dan mengikuti paradigma yang terbelakang.</p>
<p>Terdapat dua jawaban dari pertanyaan diatas, yang pertama adalah: menerima situasi dan kemudian pindah dan yang kedua adalah melakukan gebrakan dan pembuktian bahwa dengan adanya sistem informasi yang baik maka perusahaan akan lebih optimal. Teman saya ini memilih jawaban pertama yakni &#8220;menerima situasi dan kemudian pindah&#8221;, jawaban ini menurut saya juga baik, dan sayapun mungkin menerima jawaban seperti ini. Tapi apa mau dikata nenek dan kakek saya seorang pejuang, dan saya tidak boleh kalah sebelum mencoba berjuang dan mungkin saya harus bertahan untuk beberapa waktu.</p>
<p>Ketika infrastruktur sistem informasi sudah saya rasa cukup itu artinya saya harus segera pergi untuk mencari tempat lain guna mengamalkan apa yang telah didapat dan mendapatkan apa yang belum didapat dari tempat kerja yang sekarang. Cukup berat rasanya meninggalkan apa yang telah dibangun selama ini, tapi juga tak bisa dipungkiri bahwa jika ada yang lebih baik kenapa tidak, toh pada dasarnya semua orang mencari yang terbaik :)</p>
<p>Yap, perjuangan telah dirasa cukup, musuh di medan tempur sudah hampir habis, dan kini waktunya pindah ke medan laga lainnya guna mendapat lawan yang seimbang dan medali yang setimpal, saya tidak ingin menjadi pecundang dan tong kosong berbunyi nyaring, saya masih ingin belajar dan terus belajar&#8230;.</p>
<p>Akhirnya pilihan saya meninggalkan gading di tempat lama dan mulai menanam padi di tempat yang baru, semoga tetap mendapat yang terbaik, Amin ya rabbal &#8216;alamin&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.pnyet.web.id/2010/07/01/apa-yang-akan-kamu-lakukan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meminang Nikon D5000</title>
		<link>http://blog.pnyet.web.id/2010/06/28/meminang-nikon-d5000.html</link>
		<comments>http://blog.pnyet.web.id/2010/06/28/meminang-nikon-d5000.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 04:21:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Camera]]></category>
		<category><![CDATA[photoghrapy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.pnyet.web.id/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Setelah lama menimbang dan menabung akhirnya saya putuskan untuk meminang nikon D5000 dengan lensa kit 18-55 VR dengan mahar 5,870rb rupiah, harga yang tidak murah bagi office boy seperti saya ini tapi ap mau dikata lha wong sudah ngebet dan kebelet ya dibeli saja daripada nggak bisa tidur :D. Sebelumnya saya membandingkan nikon D3000 dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fblog.pnyet.web.id%2F2010%2F06%2F28%2Fmeminang-nikon-d5000.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fblog.pnyet.web.id%2F2010%2F06%2F28%2Fmeminang-nikon-d5000.html&amp;source=pnyet&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Camera,Corner,photoghrapy" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://blog.pnyet.web.id/wp-content/uploads/2010/06/D5000.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-374" title="D5000" src="http://blog.pnyet.web.id/wp-content/uploads/2010/06/D5000-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Setelah lama menimbang dan menabung akhirnya saya putuskan untuk meminang nikon D5000 dengan lensa kit 18-55 VR dengan mahar 5,870rb rupiah, harga yang tidak murah bagi office boy seperti saya ini tapi ap mau dikata lha wong sudah ngebet dan kebelet ya dibeli saja daripada nggak bisa tidur :D. Sebelumnya saya membandingkan nikon D3000 dan Canon EOS1000D, overall kedua kamera entry level ini sudah mencukupi kebutuhan saya (hanya hobi). Setelah mencoba dan menjepret dengan lens kit nya saya pikir hasilnya bagus (opini dari newbie jepret) nah karena penasaran dengan entry level lainnya maka saya mencoba nikon D5000, hm&#8230;. kesan pertama lumayan menggoda. Nikon D5000 di pegang lebih mantab karena ukurannya agak lebih besar daripadan nikon D3000 dan pas banget dengan tangan saya yang agak lebar :D.</p>
<p>Akhirnya karena kurang puas dengan nikon D3000 setelah melihat D5000 saya putuskan untuk menunda pembelian dan menabung untuk menutupi kekurangan harganya maklum selain office boy saya juga mahasiswa mandiri :D. Dan akhirnya sekarang nikon D5000 sudah ditangan, dibawah ini beberapa jepretan amatir dari D5000 dengan lens kit 18-55 VR + kenko UV Filter</p>
<p><a href="http://blog.pnyet.web.id/wp-content/uploads/2010/06/DSC_0044.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-379" title="DSC_0044" src="http://blog.pnyet.web.id/wp-content/uploads/2010/06/DSC_0044-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a> <a href="../wp-content/uploads/2010/06/CSC_0949-11.jpg"><img title="CSC_0949-1" src="../wp-content/uploads/2010/06/CSC_0949-11-e1277702308268-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.pnyet.web.id/2010/06/28/meminang-nikon-d5000.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persepsi diantara dua&#8230;</title>
		<link>http://blog.pnyet.web.id/2010/01/15/persepsi-diantara-dua.html</link>
		<comments>http://blog.pnyet.web.id/2010/01/15/persepsi-diantara-dua.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 09:57:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corner]]></category>
		<category><![CDATA[aritmatik]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[laptop]]></category>
		<category><![CDATA[persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<category><![CDATA[suka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.pnyet.web.id/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Hahahaha, sebelumnya saya ingin tertawa mendengar selebitan kabar burung, burungnya bukan merpati, valid sekali :D. Hari ini tanggal 15 Januari 2010 saya mendapat sesuatu (cerita, info, warning?) yang membuat saya bisa tertawa dalam kesedihan (couldn&#8217;t finished OpenEMR) tapi nggak papalah, tertawa diatas penderitaan sendiri hehehe. Sebelum melanjutkan membaca, saya peringatkan bahwa ini adalah tulisan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fblog.pnyet.web.id%2F2010%2F01%2F15%2Fpersepsi-diantara-dua.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fblog.pnyet.web.id%2F2010%2F01%2F15%2Fpersepsi-diantara-dua.html&amp;source=pnyet&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=aritmatik,Corner,internet,laptop,persepsi,sayang,suka" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;">Hahahaha, sebelumnya saya ingin tertawa mendengar selebitan kabar burung, burungnya bukan merpati, valid sekali :D. Hari ini tanggal 15 Januari 2010 saya mendapat sesuatu (cerita, info, warning?) yang membuat saya bisa tertawa dalam kesedihan (couldn&#8217;t finished OpenEMR) tapi nggak papalah, tertawa diatas penderitaan sendiri hehehe. Sebelum melanjutkan membaca, saya peringatkan bahwa ini adalah tulisan yang cukup serius namun saya mencoba untuk membawakannya dengan santai dan jangan sampai menimbulkan persepsi apapun kemudian&#8230;.<img title="More..." src="http://blog.pnyet.web.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Saya bingung sebenarnya mau mulai darimana, okelah kalau begitu&#8230;, diawali dari persepsi saya tentang &#8220;suka&#8221;, menurut saya siapapun berhak mengutarakan kata &#8220;suka&#8221; ke semua orang yang memang berkenan dihati. &#8220;Suka, Sayang&#8221; menurut saya adalah ungkapan yang wajar dan seharusnya juga dianggap wajar dalam sebuah pertemanan, persaudaraan, atau keluarga, namun pada kenyataannya ada beberapa individu yang mempunyai persepsi berbeda tentang ungkapan &#8220;Suka, Sayang&#8221;. Hmmm&#8230;. kenapa bisa berbeda?<span id="more-59"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa faktor yang sepertinya cukup mempengaruhi persepsi tersebut diantaranya adalah situasi, situasi dimana mengutarakan suka atau sayang cukup berpengaruh. Misalnya ketika si A menyatakan suka atau sayang ke si di tempat yang romantis, tentu hasilnya akan berbeda bila si A menyatakannya di tempat yang ramai. Faktor lainnya adalah hubungan yang telah terjalain antar dua pihak, misalnya si A adalah sepupu, atau saudara si B maka tentu saja ungkapan suka dan sayang hanya akan ditanggapi sebatas itu saja oleh si B (tau kan masukdnya!), hal ini berbeda ketika hubungan keduannya adalah soulmate atau teman baik bisa jadi ungkapan sayang atau suka itu punya tujuan tertentu selain persahabatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan persepsi ini kemudian menimbulkan masalah ketika terjadi suatu masalah atau <span style="text-decoration: line-through;">perilaku lebay</span> yang akhirnya memunculkan situasi yang tidak mengenakan sementara apa yang diterima orang lain adalah persepsi kontrak akan sesuatu hal yang sebenarnya tidak perlu. Kontradiksi ini akhirnya melahirkan situasi dimana orang yang persepsinya berbeda merasa tersudut, tidak nyaman, terhimpit oleh sesuatu yang &#8220;tidak benar&#8221; menurutnya. Kalau saya bilang &#8220;begini salah, begitupun salah&#8221; tentunya sudah tak asing lagi ditelinga kita adanya ungkapan &#8220;diam berarti setuju&#8221;, lalu apakah harus bicara, mengkalrifikasi ke semua orang? Sayangnya orang seringkali melihaat sebelah mata dan berpikir sebaliknya bahwa &#8220;klarifikasi hanyalah pengelakan&#8221;. Lalu harus bagaimana?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya nggak harus gimana-gimana, emang mau ngapain, lha wong serba salah, ya to?  Saya sendiri mencoba menempatkan diri pada situasi dan kondisi &#8220;kontra&#8221; atau orang yang terjepit oleh keadaan yang tidak seperti apa yang saya pikirkan. Pertama yang saya lakukan adalah menahan untuk marah, mencoba tetap tenang dan mengolah informasi yang ada dan kira-kira dimana salahnya. Bagi saya, klarifikasi hanya akan menghadirkan &#8220;drama&#8221; baru dan belum lagi munculnya opini-opini kontra lainnya. Tentu saja ada upaya klarifikasi, namun upaya ini tidak terlihat atau invisible mode agar tidak membuat situasi semakin runyam. Setelah mendapat informasi dari seseorang tentunya hal pertama yang saya lakukan adalah menelusuri kira-kira siapa &#8220;si ember tumpah&#8221;. Setelah itu klarifikasi hanya dilakukan ke orang yang sekiranya bisa dipercaya dan saya anggap penting, secara otomatis akan menceritakan hal yang sebenarnya sesuai dengan persepsi saya ke koleganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu apakah cukup dengan kalrifikasi ke teman saja, tanpa harus memikirkan omongan-omongan yang menyesakan? Tidak juga, yang saya lakukan adalah kembali menimbang dan berpikir secara matematik dan logis mengenai siapakah yang menjadi sumber masalah, bila orang itu cukup penting dan sebelumnya tidak ada masalah dengan saya maka saya harus klarifikasi sendiri, karena dianggap penting ya sudah sepantasnya mengklarifikasi ke orang tersebut karena memang dirasa penting. Kalau sumber itu adalah orang yang kurang penting atau bila didalam suatu organisasi penyebar isu adalah orang yang levelnya dibawah saya, dan memang sudah terkenal sebagai penggosip maka saya tidak perlu mengklarifikasi bahkan cenderung merendahkan orang tersebut. Ketika sebelumnya saya menaruh hormat ke yang bersangkutan maka setelah masalah ini mungkin agak berubah, dan ada suatu gambaran kepatutan pada diri ybs. &#8220;Pantas saja levelnya segitu-gitu saja, sikap dan pikirannya saja seperti itu&#8221; biasanya anggapan-anggapan seperti ini mulai muncul pasca insiden :D.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak perlu memikirkan apa yang saya dengar, omongan baik dan omongan buruk sudah seperti aritmatik bagi saya, ketika omongan-omongan tersebut layaknya angka-angka penting yang punya pengaruh signifikan bagis realitas maka tentu saja akan menjadi masalah yang harus diselesaikan. Tapi jika dalam kasus seperti ini maka omongan-omongan seperti itu tidak perlu ditanggapi karena bukan sesuatu yang akan mempengaruhi perhitungan saya, paling-paling anggapan lebih rendah muncul dengan sendirinya dikepala saya karena orang tidak seharusnya berbicara seperti itu. Sulit memang mengerti orang lain, bahkan saya cenderung tidak mengerti terhadap orang-orang yang ada disekitar saya, apa yang mereka tertawakan, apa yang mereka bicarakan adalah orang lain yang sebenar-benarnya mempunyai hak mutlak yang saling berbatas-batasan satu dengan yang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi para penggosip, mungkin membicarakan orang lain adalah sesuatu yang menyenangkan, seperti saya ketika sedang duduk di depan komputer canggih dengan koneksi insternet super cepat maka sayapun betah untuk tidak beranjak selama seharian. Atau sama halnya ketika saya sedang di ruangan atau alam yang cukup tenang (sunyi), tidak ada suara-suara berisik manusia tertawa, menangis, kucing berantem, tikus mengerat dinding, maka selama ada laptop core 2 duo dan internet secukupnya saya bisa hidup tanpa siapapun. Terkadang saya juga mendegar gosip, tapi saya tidak pernah seperti mereka yang kemudian menjadikannya topic, hot news or whatever lah&#8230;. Bagi saya informasi (gosip) seperti itu tidak layak untuk dibahas karena akan melanggar privasi orang lain. Lalu kenapa saya mendengar gosip? Terkadang saya ingin tahu apa yang sedang menjadi trend, apa yang sedang hangat diperbincangkan, namun ketika sudah menyakut orang lain yang kemudia saya mempunyai persepsi berbeda tentang objek yang dibahas maka obrolan itu saya anggap &#8220;kentut&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya adalah, saya menganggap perlu bila itu penting dan berpengaruh, kalau enggak ya ngapain dipusingin? Masih ada yang lebih penting untuk dipikirkan, masih banyak yang lebih berarti untuk dilakukan. Nggak penting mah nggak usah dipusingin, akur Dab?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.pnyet.web.id/2010/01/15/persepsi-diantara-dua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hobiku bangkit dari kubur&#8230;</title>
		<link>http://blog.pnyet.web.id/2010/01/13/hobiku-bangkit-dari-kubur.html</link>
		<comments>http://blog.pnyet.web.id/2010/01/13/hobiku-bangkit-dari-kubur.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 04:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corner]]></category>
		<category><![CDATA[canon]]></category>
		<category><![CDATA[casio]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[kamera]]></category>
		<category><![CDATA[nikon]]></category>
		<category><![CDATA[photoghrapy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.pnyet.web.id/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Sedjak dahulu kala saya memang menggemari &#8220;hobi&#8221; yang satu ini, atau tepatnya sedjak SMP saya sudah menggemari seni photoghrapy. Pertama kali saya memegang kamera adalah poket kodak tipenya saya lupa tapi yang pasti kamera itu kini menjadi bangkai, yach namanya juga sudah udzur :D. Dulu&#8230;., untuk memegang kamera saya harus menabung sebulan hanya sekedar membeli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fblog.pnyet.web.id%2F2010%2F01%2F13%2Fhobiku-bangkit-dari-kubur.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fblog.pnyet.web.id%2F2010%2F01%2F13%2Fhobiku-bangkit-dari-kubur.html&amp;source=pnyet&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=canon,casio,Corner,hobi,jurnalis,kamera,nikon,photoghrapy" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;">Sedjak dahulu kala saya memang menggemari &#8220;hobi&#8221; yang satu ini, atau tepatnya sedjak SMP saya sudah menggemari seni photoghrapy. Pertama kali saya memegang kamera adalah poket kodak <span style="text-decoration: line-through;">tipenya saya lupa</span> tapi yang pasti kamera itu kini menjadi bangkai, yach namanya juga sudah udzur :D. Dulu&#8230;., untuk memegang kamera saya harus menabung sebulan hanya sekedar membeli film satu roll yang harganya waktu itu untuk asa 200 sekitar Rp. 25.000,-. Susah sekali rasanya untuk bisa memencet shutter karena saya harus berpuasa jajan selama kurang lebih sebulan utnuk membeli film :D, atau jalan pintas ya <span style="text-decoration: line-through;">menggelapkan uang SPP</span> :oops:.<span id="more-43"></span>Kesenangan saya dengan kamera dan photoghrapy harus kandas dan kalah oleh hobi yang telah mendarah daging sebelumnya, saya menggemari elektronika sedjak SD dan kamera baru menginjak SMP. <span style="text-decoration: line-through;">Prestasi saya di dunia eletronika cukup bagus waktu itu</span>, ada beberapa radio AM (SW-MW) yang rusak setelah saya bongkar :D, dan alhasil alm. Kakek marah-marah hehehe, tapi ya yang namanya hobi sekalipun dimarahi ya besok diulangi lagi alasannya adalah saya ingin tahu bagaimana lilitas kabel itu bisa menghasilkan bunyi-bunyian (gending-gending). Ok, kembali lagi ke kamera&#8230;, pertengahan tahun di SMK N Negeri Blitar atau tepatnya kelas 2 SMK hobi berkamera mulai bangkit lagi karena kebetulan saya mengikuti ekstrkurikuler jurnalistik, waktu itu saya diberikan materi photoghrapy oleh Mas Imam Muslim beserta para senior (jaman itu saya masih junior, -Red), kamera yang digunakan adalah Konica Minolta yang terkenal cukup ribet dibandingkan dengan kamera instant jaman sekarang :D. Saya juga pernah diberi materi oleh Senior lainnya yang kebetulan memang sedang berada di dunia jurnalistik (sebagai wartawan) yaitu Mas Santon, tapi saya tidak memperhatikan merk dan tipe kameranya, yang saya tahu hanya masih menggunakan analog dan film :D.</p>
<p style="text-align: justify;">Hobi perkameraan sedikit tersalurkan dengan keanggotaanku di Jurnalistik SMK N 1 Blitar, karena organisasi ini mengelola majalah sekolah dan sering mengadakan liputan untuk setiap bulannya (konon sekarang dipegang anak broadcast untuk magazine-nya, sad :(). Ya.., cukup seringlah hunting narasumber, photo (model, panorama, etc). Kemudian setelah lulus dari SMEKENSA, saya sempat menjadi pengganguran maupun pers lokal, akhirnya di Surabaya saya menemukan sesuatu yang sangat menarik dan menenggelamkan hobi photoghrapy saya ((baca halaman profil). Yach apa boleh buat ada tuntutan lain yang harus dipenuhi, dan saya harus fokus untuk itu dulu&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melanglang buana dari Indonesia bagian Jawa Timur hingga Indonesia bagian Kalimantan Timur akhirnya saya terdampar di Jakarta raya, metropolitan yang penuh sesak, penuh asap, penuh prahara tapi juga menjanjikan segudang kesuksesan serta kesengsaraan. 1 tahun sudah saya berada di kota penat ini, bekerja, kuliah adalah keseharian saya, kehidupan yang kini kian membaik dengan kondisi ekonomi yang cukup stabil meski kadang harus menjadi tukang parkir untuk menutup pasak :D. Berawal dari kondisi inilah saya berpikir untuk kembali membangkitkan ketertarikan saya tentang photoghrapy, kali ini saya tidak hanya gemar jeprat jepret tapi saya memang lebih serius &#8220;ingin&#8221; belajar photoghrapy meski hanya untuk sekedar hobi saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Berpikir sekian lama sekian bulan (Sekitar 6 bulan lalu) saya memutuskan untuk membeli kamera DSLR entry level, tapi saya bingung kamera mana yang cocok untuk saya, padahal saya juga belum punya uang sama sekali untuk anggaran &#8220;hobi&#8221; ini :D. Ya sudah&#8230;, karena memang tidak ada uang, jadinya saya hanya bisa melihat review-review kamera DSLR entry level, biasanya saya melihat review perbandingan spesifikasi DSLR di dpreview.com dan perbandingan hasil di imaging-resource.com dan alhasil saya mengantongi beberapa kandidat untuk entry level seperti saya yakni Canon 1000D, Sony alpha 330, Nikon D3000.</p>
<p style="text-align: justify;">Keputusan saya untuk melancarkan hobi ini bermula ketika saya melihat-lihat gambar yang diambil dengan lensa macro, gambarnya begitu hidup dan bisa menghipnotis saya meski saya tidak sampai mentransfer uang ke orang yang tidak jelas :P. Kenapa saya harus membeli kamera SLR sementara saya sudah punya kamera poket Casio Exilim? Tentu saja tidak relevan bila membandingkan DSLR dan Pocket Camera, namun alasannya adalah karena saya butuh kamera DSLR. Sebagai seorang IT yang sehari-hari bergelut dengan komputer dan sedikit autis maka saya harus mencari hiburan lain yang lebih bermanfaat daripada sekedar nongkrong, hang out, clubing, ke mall, nonton. Kebetulan memang saya kurang suka berkumpul dengan teman-teman atau siapapun yang tidak kurang jelas topik bahasannya. Meski kadang perlu bergumul hanya untuk sekedar menyambung silaturahim dan tidak pernah menjadi kebiasaan dalam hidup saya :D.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu saya pikir, DSLR juga dapat mendukung pola hidup saya yang sendiri, dan menggemari suasana sunyi, sebagai manusia biasa tentunya saya juga perlu hiburan dan gambar-gambar bernyawalah yang mampu membuat saya tersenyum dikala jenuh dengan penatnya hidup. Satu, dua alasan ini bila dirangkum akan menjadi alasan singkat dalam mengambil keputusan membeli kamera DSLR yaitu &#8220;karena saya butuh&#8221;, saya tidak ingin mengubah pola hidup saya yang gemar sendiri, dan dengan kamera saya tetap bisa meramaikan hidup saya yang sepi :D.</p>
<p style="text-align: justify;">Thats all&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.pnyet.web.id/2010/01/13/hobiku-bangkit-dari-kubur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
