motret

Hunting ke Bogor

Well…, akhirnya kesampaian juga hunting ke Bogor. Sabtu kemarin saya pergi ke Bogor untuk sesi pemotretan Regina meski kondisi badan kurang prima karena baru pulang kerja jam 1 pagi dan langsung ambil mobil sampe jam 3 pagi, tidur sekitar 30 menit membuat badan agak loyo, meskipun masih bisa ketawa :-D . Berangkat dari Jakarta jam 5 pagi dan tiba dilokasi sekitar jam 7:30. Perjalanan dari Jakarta ke Bogor – Puncak cukup menyenangkan dan lancar karena masih pagi, top speed di tol jagorawi 135km/h karena mobil agak limbung ketika melintasi jalanan yang tidak rata. Continue reading “Hunting ke Bogor” »


d5000

Bercerai dengan Nikon D5000

Sejak kemarin (6/12/2010)  saya tidak memiliki kamera SLR lagi, keputusan saya untuk menceraikan Nikon D5000 nampaknya sudah bulat dan harap-harap mendapat DSLR dengan level diatasnya. Hm…, mungkin saya akan bercerita tentang pengalaman selama merajut cinta dengan DSLR entry level Nikon D5000.

Saya membeli Nikon D5000 sejak juli 2010 dan tentunya usianya bersama saya masih seumuran jagung, meski demikian pengalaman bersama Nikon D5000 adalah pengalaman saya bersama DSLR untuk pertama kalinya sedangkan sebelum-sebelumnya adalah CUMI (CUma MInjem) :D. Sebenarnya Nikon D5000 sudah cukup powerfull dengan segudang fitur yang dimilikinya dan rasanya sudah cukup untuk kebutuhan saya sebagai hobi. Namun siapa sangka perceraian ini begitu cepat terjadi :D

Beberapa hal yang membuat saya ingin pindah level adalah karena support lensa pada Nikon D5000 cukup mahal, kamera ini mengharuskan lensa bertipe AF-S atau lensa yang sudah menggunakan motor. Huh, saya tidak ingin menghabiskan anggaran hanya untuk membeli lensa, jadi saya pikir sebaiknya sekali membeli body yang bisa untuk segala macam lensa, entah D90 atau D300s (Wow…) :D.

Mungkinkah ini adalah keputusan yang sangat emosional? Mungkin saja, tapi saya tidak ingin menghabiskan uang hanya untuk lensa terus menerus dan saya tidak ingin berhenti membeli lensa karena keterbatasan anggaran :D.


Hobiku bangkit dari kubur…

Sedjak dahulu kala saya memang menggemari “hobi” yang satu ini, atau tepatnya sedjak SMP saya sudah menggemari seni photoghrapy. Pertama kali saya memegang kamera adalah poket kodak tipenya saya lupa tapi yang pasti kamera itu kini menjadi bangkai, yach namanya juga sudah udzur :D. Dulu…., untuk memegang kamera saya harus menabung sebulan hanya sekedar membeli film satu roll yang harganya waktu itu untuk asa 200 sekitar Rp. 25.000,-. Susah sekali rasanya untuk bisa memencet shutter karena saya harus berpuasa jajan selama kurang lebih sebulan utnuk membeli film :D, atau jalan pintas ya menggelapkan uang SPP :oops:. Continue reading “Hobiku bangkit dari kubur…” »